
Seseorang menggunakan teknologi karena ia memiliki akal dengan akalnya ia
ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman, mudah, nyaman
dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan
akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut
kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh
perangkat-perangkat mesin, seperti komputer, kendaraan, handphone, dan lain sebagainya. Pada
satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah
membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia.
Meskipun
ada dampak negatifnya atau kelemahan dari kemajuan IPTEK. Namun hal ini seolah
diabaikan oleh manusia. Ternyata arus
globalisasi tidak luput menghampiri masyarakat dan sedikit banyak memberikan
dampaknya, tak terkecuali pada masyarakat pedesaan yang sering dilukiskan
sebagai masyarakat yang masih tradisional. Ciri-ciri masyarakat
desa sebagai masyarakat, dimana warganya
mempunyai hubungan yang lebih erat dan mendalam, sistem kehidupannya
berkelompok atas dasar kekeluargaan dan pada umumnya bermata pencaharian
sebagai petani (Soerjono Soekanto, 1983).
Kasus yang banyak terjadi pada saat
ini di kebanyakan masyarakat pedesaan juga terjadi hal serupa, anak – anak yang
orang tuanya bukan orang kaya sekalipun bisa memiliki handphone berfasilitas
kamera, motor keren, bahkan mungkin orang tuanya terpaksa berhutang untuk
memenuhi keinginan anaknya. Para orang tua yang masih memiliki cara berpikir
“ndeso”, tidak benar – benar mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan “anak
jaman sekarang”. Sehingga ketika anak – anaknya menginginkan sesuatu dengan
dalih, “jaman sekarang, kalau tidak punya barang itu, bisa begini, begini, dan
begini”, maka mereka pun akan langsung berusaha memenuhinya. Sekalipun bila
anak – anak mereka menyodorkan produk berharga tinggi seperti, misalnya
handphone mid end berfasilitas kamera dan mp3. padahal ada handphone dengan
harga lebih murah walau tentu berfitur standar.
Perubahan pola komunikasi ini
kemudian akan mengubah standar ekonomi masyarakat. Masyarakat, terutama orang
tua, dituntut untuk memiliki penghasilan lebih demi mengikuti perkembangan ini.
Kenyataan bahwa perbedaan antara barang mewah dan barang biasa menjadi semakin
kabur, membuat tuntutan ini terkadang terasa semakin berat. Standar dari
kemewahan terus berubah dan semakin menuntut perkembangan ekonomi masyarakat di
tengah semakin sulitnya persaingan ekonomi di antara masyaraka. Bagi yang tidak
mampu mengimbangi akan semakin tersisih dan lama kelamaan akan tersingkir bila
ia tetap tidak bisa beradaptasi dan survive. Hal ini tentunya akan
semakin sulit bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan (skill) atau
koneksi yang dapat membantu untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Segi positif perkembangan ini
memang membuat masyarakat semakin mudah dalam mengakses informasi. Setiap orang
dapat mengakses informasi apapun yang mereka butuhkan dari seluruh dunia. Namun
penyebaran informasi ini terkadang tidak terkendali. Begitu banyak informasi
yang memerlukan pertumbangan lebih lanjut untuk disebarkan secara bebas tanpa
pengawasan. Hal ini sering kali menghasilkan efek samping negatif pada anak –
anak di bawah umur yang dengan bebasnya menyaksikan dan mempelajari hal – hal tidak
atau belum layak untuk mereka konsumsi dari berita yang publikasinya dilakukan
tanpa melalui proses sensor yang benar.
Selain itu, aplikasi pada HP yang
semakin canggih memungkinkan kita mengakses informasi – informasi yang jika
dimanfaatkan dengan positif, maka hasilnya juga akan positif. Katakanlah HP
yang bisa mengakses internet, maka kita bisa browsing dan tidak mustahil
masyarakat yang ada di pedesaan bisa mencari informasi mengenai pupuk, alat –
alat pertanian mutakhir dan lain sebagainya. Namun kenyataannya penggunaan HP
dikalangan masyarakat desa belum terlalu optimal. Seandainya penggunaan HP bisa
dioptimalkan dalam hal positif, bisa dibayangkan jika pemuda – pemuda desa
menggunakan kecanggihan HP miliknya untuk membantu orang tuanya dalam hal
mencarikan informasi terkait pertanian, sehingga penghasilan keluarga bisa
meningkat. Tidak malah menggunakannya untuk mengakses dan menyimpan video –
video porno sehingga memicu terjadinya penyimpangan – penyimpangan.
Selain maraknya penyimpangan yang
dilakukan oleh pemuda desa, dampak yang lain yang timbul dari penggunaan
handphone yaitu kurangnya interaksi masyarakat akibat intensitas pertemuan
antar anggota masyarakat yang mulai berkurang. Contoh yang kecil katakanlah
dalam keluarga. Dulu ketika Natal bersama, hal penting adalah “wajib” bagi
masyarakat umum yaitu berjabat tangan dan bertegur sapa saling memaafkan secara
langsung. Namun dengan kecanggihan masa kini, dimungkinkan untuk kita tidak
harus bertatap muka dan berjabat tangan secara langsung jika sekedar mau
bermaaf - maafan, bisa dengan telpon, SMS, video call dan fitur – fitur lain.
Ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat pedesaan saat ini telah terjadi
pergeseran nilai yang dulu sangat amat dijunjung tinggi yaitu nilai kebersamaan
dan saling berdamai.
Menurut Ferdinant Tonnies,
masyarakat pedesaan yang dicirikan sebagai masyarakat Gemeinschaft memiliki
ciri salah satunya yaitu kepentingan bersama lebih dominan dengan kata lain
kehidupan bersama ikatan lahiriah yang bersifat jangka panjang. Indikatornya
yaitu adanya nilai yang menjunjung tinggi kebersamaan. Namun, adanya teknologi
informasi dan komunikasi yang berbentuk HP maka nilai kebersamaan ini pada
masyarakat desa mulai berkurang, intensitas pertemuan dengan tatap muka
langsung dan berinteraksi secara langsung juga berkurang, sehingga menyebabkan
pergeseran kebudayaan kebersamaan yang ada pada masyarakat pedesaan.
Belum lagi masalah peningkatan
urbanisasi juga tidak sedikit yang disebabkan oleh hal ini. Kebanyakan anak
muda di desa ini menganggap hebat bila ada yang bisa bekerja di kota besar
seperti Jakarta atau menjadi TKI di luar negeri. Sebab seakan – akan telah
terjadi pergeseran pemikiran para pemuda desa yang menganggap jika bisa keluar
desa untuk merantau, entah itu ke kota – kota besar atau keluar negeri, maka
telihat keren, gaya, pulang setahun sekali, bisa menenteng tas besar,
berpakaian dan berpenampilan necis, bisa terlihat keren, gaya dan sedang trend.
Akibatnya, tidak sedikit yang malah terpancing masuk ke pergaulan bebas, dunia
undercover kota besar, ataupun terlibat kasus TKI ilegal. Akibat yang lain
yaitu angka pekerja muda pertanian semakin berkurang. Sehinga ketika panen
tiba, para petani sulit mencari buruh tani untuk membantu pekerjaan disawah.
Jika terpaksa tidak bisa menangani pekerjaan disawah sendiri, mereka harus
mencari buruh tani dari luar desa yang itupun jika dapat yang sudah
berumur. Tidak hanya petani dengan lahan yang luas yang resah, petani
kecilpun juga mulai bingung karena usia mereka mulai lanjut akan tetapi tidak
ada generasi penerus yang meneruskan pekerjaan disawah. Dikhawatirkan maka
mereka suatu hari akan menjual sawah mereka karena memang usia sudah tida
mendukung bekerja keras disawah dan lebih lagi karena tidak adanya anak – anak mereka
yang meneruskan pekerjaan disawah karena pergeseran pola pemikiran pemuda desa
yang lebih suka bekerja dsektor non-agraris, meskipu itu bekerja jadi buruh
pabrik atau apapun yang penting tetap bersih dan jauh dari lumpur sawah.
Fenomena diatas dari perspektif
sosiologi dapat dipahami sebagai gejala pergeseran nilai dan budaya yang ada
dimasyarakat pedesaan. Jika dahulu bekerja disawah adalah pekerjaan utama, tapi
tidak untuk saat ini. Banyak pemuda yang malah keluar desa dan bekerja diluar
agraris. Padahal Indonesia adalah Negara agraris disamping Negara maritime.
Namun jika para pemuda, generasi penerus orang – orang tua semakin meninggalkan
budaya turun temurun tersebut, maka bila kita memberikan prediksi ekstrim
mengenai kehidupan ini bisa saja kelak petani – petani akan menggunakan iklan
untuk mencari buruh tani yang bisa diupah. Ini menunjukkan pula pergeseran
struktur social yang ada pada masyarakat pedesaan. Atau bahkan bisa saja kelak
label Indonesia sebagai Negara agraris perlahan tapi pasti hilang dan berganti
dengan Negara yang kehilangan jati dirinya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar